Latar Belakang Gerakan Separatis PKI di Karisidenan Madiun

Olah data : madiunpedia
 
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, lokasi Madiun yang dekat dengan Yogyakarta yang mana pernah menjadi Ibu kota negara Indonesia sebelum dipindahkan ke Jakarta, banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia setelah kemerdekaannya salah satunya Agresi Militer Belanda serta dua angkatan tentara yaitu NICA (Nederlandsche Indische Civil Administration) dan KNIL (Koninklijke Nederlandsche Indische Leger).

Di Madiun sendiri peristiwa besar setelah Indonesia merdeka yaitu Madiun Affair atau pemberontakan PKI di Madiun oleh Amir Sjarifudin (Mantan Menteri) dan Musso yang kala itu masih ada NASAKOM (Nasionalis – Agama – Komunis) dengan partainya yaitu PNI, MASYUMI dan PKI pada masa orde lama. Kebijakan mantan menteri Amir Sjarifudin yang fenomenal bernama gunting sjarifudin yaitu kebijakan moneter pada masa kabinet Hatta II, pada masa pasca kemerdekaan Indonesia masih fokus dalam bidang internal sistem seperti kebijakan, public policy dan mengalami banyak pergantian kabinet. Pada saat perjanjian Renville antara Indonesia dengan Belanda di atas kapal Amerika Serikat USS Renville, Kabinet Amir Sjarifudin mengalami kejatuhan karena kalah dalam perundingan tersebut.

Amir dan beberapa kawannya yang mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 17 Desember 1945 yang banyak mengalami perombakan internal dan penguatan partainya, semenjak Amir tergabung dalam kabinet dan menjabat sebagai menteri, Amir melakukan banyak usaha penguatan partainya serta mulai menyusun kekuatan untuk menguasai pemerintah selanjutnya dan menjadi pihak oposisi (meliputi FDR dan Partai Sosialis lainnya) dari kabinet Hatta dan membuat ‘adu domba’ sehingga dalam masyarakat menimbulkan pemikiran bahwa adanya dua aliran politik yang saling bertentangan dan senantiasa berusaha menggulingkan kabinet Hatta, semenjak kedatangan Muso dari Uni Soviet Amir berusaha menjadikan Muso sebagai bagian darinya. Setelah Muso menjadi bagian darinya, para pimpinan PKI mengadakan tur propaganda yang dimulai pada awal September 1948.

Pemberontakan PKI di Madiun dimulai pada dini hari setelah terdengar tembakan pistol tiga kali sebagai tanda dimulainya gerakan pemberontakan, gerakan awal yaitu melucuti senjata aparat serta menduduki tempat penting di kota Madiun seperti kantor pos, bank, kantor telepon, kantor polisi. Setelah menguasai Madiun dan daerah sekitarnya melalui Radio Madiun yang kemudian disebut Radio Gelora Pemuda, PKI Muso menyatakan dirinya sebagai pemerintah dan melakukan serangan dan fitnahan terhadap pimpinan RI, pada pagi hari pasukan komunis dengan tanda merah tersebar di sepanjang jalan dan menjadikan Madiun sebagai basis pertahanan. Dari sumber buku Pemberontakan PKI – Muso karya Rachmat Susatyo, Dr. A.H. Nasution menjelaskan bahwa bukti adanya pemberontakan sudah direncanakan sejak lama yaitu dari dokumen yang ditemukan dari kamar Amir Sjarifudin.

Pemberontakan banyak terjadi di wilayah Magetan, Madiun, Ponorogo dan Ngawi yang dipimpin oleh Muso yang  memproklamasikan negara komunis bernama Republik Soviet Indonesia, banyak anggota PKI terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur melakukan banyak pemberontakan. Pada akhir tahun 1948 PKI disinyalir akan menguasai wilayah Madiun dan sekitarnya, informasi diberitakan oleh Harian Murba di Surakarta bahwa kudeta (coup d’etat) akan segera digencarkan dengan mengadakan pemberontakan serta menciptakan agitasi (huru-hara)

Pemberontakan PKI di Madiun, para pemuda pelajar yang tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), TGP (Tentara Geni Pelajar) serta pelajar yang lainnya menentang politiknya PKI, pada tanggal 15 September 1948 satu peleton anggota Pesindo dikerahkan untuk menyerang para pemuda di asrama TRIP. Pasca terjadinya penyerangan tersebut menyulut api emosi para pelajar yang akhirnya pelajar mendirikan organisasi Patriot Anti Musso (PAM) yang memiliki tujuan untuk menghancurkan pemerintahan Muso. Di daerah Wungu dan sekitarnya banyak terjadi pembantaian, sumur yang terletak sekitar rumah yang pernah ditempati oleh wakil bupati sebagai tempat pembuangan mayat, banyak eksekusi yang dilakukan salah satunya anggota TRIP juga disiksa dan dieksekusi oleh PKI.

Foto oleh tiangsudra/madiunpedia

Madiun dan Magetan merupakan daerah yang dibilang strategis oleh PKI untuk melancarkan aksinya, Monumen Soco yang terletak di daerah Soco dekat desa Carikan merupakan saksi kekejaman PKI kepada masyarakat terutama para santri dan kyai, Kyai Soelaiman bersama 200 santri dihabisi dan dimasukkan dalam satu gerbong bernama gerbong Kertapati. Salah satu kejadian ajaib di desa Soco yaitu warga mendengar suara dzikir “Laa ilaaha illallah” terus berulang-ulang tetapi masyarakat setempat tidak mengetahui asal suara tersebut.

Di Madiun terjadi pembantaian Kyai dan santri di daerah Pabrik Gula Redjosari, Gorang Gareng. Semua santri dan Kyai dikumpulkan dalam pabrik gula dan dieksekusi, selain di Gorang Gareng pembantaian kepada Kyai, santri dan aparat juga terjadi di Kebonsari dan Jiwan. Setelah banyak melakukan pembantaian kepada para Kyai dan santri, PKI melakukan pembantaian kepada pejabat dan aparat, salah satu korban Kapten Soebirin dan Inspektur Polisi Ismiadi yang dibunuh dengan cara diseret kendaraan Jeep.

Sebagai upaya pengamanan dan menumpas pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, Markas Besar Angkatan Perang mengangkat dan menetapkan Kolonel Sungkono sebagai Panglima Pertahanan Jawa Timur, setelah ditetapkan Kolonel Sungkono memerintahkan Brigade Surachmad bergerak ke Madiun, pasukan yang dibentuk dipimpin oleh Mayor Jonosewojo. Pasukan yang dipimpin oleh Mayor Sabaruddin bergerak melewati Sawahan menuju Dungus dan Madiun sedangkan pasukan lainnya menuju ke Magetan sedangkan Batalyon Sentot sudah mengamankan Walikukun yang kemudian bergerak ke Madiun.

Banyak kejadian di Madiun pasca kemerdekaan Indonesia, mimpi buruk PKI di Madiun dan sekitarnya menjadi momok masyarakat sampai sekarang, banyak kejadian dan insiden yang tidak bisa mimin tuliskan disini, kalau dulur-dulur mau lebih dalam ingin mengetahui seputar pemberontakan PKI di Madiun, berikut daftar bukunya :

1. Pemberontakan PKI – Musso di Madiun yang ditulis Rachmat Susatyo

2. Ayat-ayat yang Disembelih yang ditulis oleh Anab Afifi dan Thowaf Zuharon

3. Sedjarah Pergerakan Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Pringgodigdo

4. Komunisme dan Kegiatannya di Indonesia yang ditulis oleh Makmun Salim

5. Sedjarah Pergerakan Nasional Indonesia yang ditulis oleh Susanto Tirtoprodjo

6. Sedjarah Revolusi Indonesia Masa Revolusi Bersenjata yang ditulis oleh Iwa Kusuma

7. Kronik Peristiwa Madiun 1948 yang ditulis oleh Suratmin

8. dan masih banyak lagi

Yang mimin mau garis bawahin, masyarakat Madiun bukanlah PKI, ya mungkin ada beberapa kelompok orang Madiun yang menjadi anggota PKI, yang menjadi poin penting bahwa banyak perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Madiun antara lain bersatunya umat islam (NU – Muhammadiyah), Tentara Pelajar, masyarakat sipil membantu pasukan TNI dalam bergerilya dan masih banyak lagi perlawanan masyarakat Madiun, jadi stigma bahwa masyarakat Madiun adalah PKI adalah salah besar, Madiun dan sekitarnya merupakan basis pertahanan PKI dalam menumbangkan pemerintahan Indonesia dengan tokoh besarnya yaitu Amir Sjarifudin, Musso, D.N Aidit. Serta banyak pemberontakan PKI yang terjadi di Jawa Tengah dan daerah lainnya.