Saya Orang Kabupaten, Saya Mendukung Maidi Dua Periode

foto: beritalima.com

Pak Maidi, politisi yang teknokrat dan teknokrat yang politis, cara dia membangun Kota Madiun sangatlah mengagumkan. Terlepas dari perdebatan, problematika, dan kejanggalan yang ada, harus kita apresiasi dengan sadar, bahwa pembangunan kota ini layak  diacungi empat jempol. Mungkin kalian menganggap berlebihan, apresiasi empat jempol nampak  hiperbolis dan terkesan menjilat— tapi tidak— saya sedang jujur apa adanya, bahwa Pak Maidi adalah walikota dengan implementasi teknokratik yang ajib.

Merencanakan pembangunan bukanlah hal yang mudah, ada debat gagasan, kecemasan proyeksi kedepan, serta aturan birokrasi yang ngunukuilah. Ketakutan akan hal yang unpredictable musti menghantui pimpinan daerah saat menetapkan visi perencanaan, namun disinilah ketegasan pemimpin dilihat, keberpihakannya dinantikan dan otak politiknya digunakan. Beruntungnya, Pak Maidi adalah Walikota yang berhasil melewati semuanya dengan sangat apik. Kerumitan birokrasi yang alot— jadi lunak lewat tangan dinginnya. 

Capaian pembangunan Kota Madiun juga tak boleh disepelekan. Mereka tak berhenti pada proses dan fungsi, tapi naik kelas jadi program dan hasil. Cara merencanakan dan keputusan yang Pak Maidi ambil nampak cukup tepat, ia tampil bak teknokrat handal lulusan eropa. Upaya Pak Maidi menyulap Kota Madiun menjadi daerah yang progresif, masif, dan disruptif dapat kita labeli berhasil. Capaian positif ini wajib dipertahankan, dijaga keselarasan pembangunannya, atau dalam bahasa yang agak keren “sustainability development.”

Mada

DPRD Kota Madiun menggelar Rapat Paripurna membahas akhir masa jabatan Wali Kota dan Wakil Walikota. Intinya, kepemimpinan Mada bakal purna pada 31 Desember 2023. Tinggal menghitung bulan saja masa kepemimpinan Pak Maidi dan Ibu Inda Raya usai, pemimpin yang terpilih saat Pilwalkot 2018, mengalahkan dua pasangan calon, yakni Mahardika- Arief Rahman dan Yusuf Rohana - Bambang Wahyudi.

Menuju Piwalkot 2024, dinamika politik Kota Madiun nampak semenjana, setidaknya sampai catatan ini selesai ditulis, belum ada nama yang mencuat untuk bertarung dalam pesta demokrasi pemilihan walikota tahun depan, mungkin masih pada malu dan tak ingin buru-buru. Atau memang tak ada calon yang berani, sebab apa yang telah diwariskan Pak Maidi, merupakan satu hal yang menjadikan dirinya layak untuk dipilih lagi.

Legacy yang sudah ia buat, akan jadi modal politik yang ciamik, tak perlu mengeluarkan biaya politik yang besar untuk menjadikan Pak Maidi berjaya di periode kedua. Bahkan jika beliau nggaya maju independen tanpa cawe-cawe partai politik pun, kemungkinan Pak Maidi menang masih sangat besar. Tak perlu menunggu siapa wakil yang akan mendampinginya, Pak Maidi musti menang mudah jika tak terpeleset di penghujung akhir masa jabatannya.

Kabar angin, kabar burung, dan desas desus tongkrongan, dapat kita pastikan Pak Maidi dan Ibu Inda Raya tak bakal jadi Mada, mereka nampak bakal pecah kongsi. Hal ini nampak dari hal-hal kecil yang dapat kita amati sebagai rakyat kecil, beliau berdua jarang satu frame, baik di postingan instagram maupun baliho raksasa di jalan perbatasan kota, saya malah sering disuguhkan foto Pak Maidi dengan istrinya saat memasuki Kota Madiun.

Tapi yang namanya politik, dinamis dan sulit diprediksi. Tak menutup kemungkinan juga Pak Maidi dan Ibu Inda Raya bakal satu mobil lagi untuk melanjutkan pembangunan yang sudah mereka kerjakan. Ya kita lihat saja bagaimana nantinya, rakyat medioker hanya mampu memprediksi, rasan-rasan di warung kopi, dan terus menanti keputusan dari petinggi partai.

Dua Periode 

Indonesia punya banyak catatan sejarah perihal inkonsistensi, ganti pemimpin ganti kebijakan, ganti Menteri Pendidikan ganti kurikulum, ganti kepala daerah ganti juga kepentingan politisnya. Ini hal yang lumrah terjadi di Indonesia, apalagi kalau pemimpin baru yang terpilih adalah lawan politik dari pemimpin sebelumnya. Ketidaksinambungan pembangunan menjadikan pertumbuhan daerah macet, tidak sat-set, dan berpotensi besar jadi terbengkalai.

Langkah progresif yang sudah ada di Kota Madiun, musti dijaga kesinambungannya. Meski mustahil disebut sempurna, periode pertama Pak Maidi berhasil membuktikan kepada kita, bahwa rumitnya tata kelola birokrasi, konflik kepentingan,  tak menjadikan dirinya ciut untuk membangun daerah, caranya membangun juga cukup efektif-efisien, berhasil mengintegrasikan perencanaan dan penganggaran dengan maksimal.

Agenda, program, dan kebijakan yang sudah selangkah lebih maju ini, seyogianya dijaga persistensinya. Mengingat kesempatan bahwa Pak Maidi masih punya hak untuk mencalonkan diri tahun depan, kok alangkah baiknya tren positif ini dilanjutkan lagi oleh beliau, agar substansi pembangunan yang sudah ada dapat selangkah lebih maju lagi. Keberlanjutan pembangunan jadi alasan sederhana kenapa Maidi 2 periode adalah harga mati.