Madiun Tak Selelah Jogja, Tapi Siap Mengulangi Kesalahannya.

Hujan Deras Akibatkan Banjir di Kota Madiun, Ini Penyebabnya
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di sejumlah wilayah di Kota Madiun, Rabu malam (10/1/2024). Foto: Adi

Hujan deras mengguyur wilayah Kota Madiun, Rabu (10/1) sore hingga malam, sejumlah genangan muncul. Luapan genangan muncul di beberapa titik ruas jalan. Beberapa di antaranya memasuki rumah warga.  Genangan setidaknya terjadi di Jalan Kalimantan gang Sumber Umis, Jalan Sendang, Jalan Halmahera, Jalan Diponegoro depan SPBU Joyo, Jalan Kemuning, Jalan Anggrek, Jalan Catur Jaya, Jalan Pelita Tama, Jalan Sawo Barat, Jalan Puntuk, Jalan Candi Sewu, dan Lapak Tawangrejo (madiuntoday).


Bagi saya, Madiun tidak banjir, ia hanya tergenang air. Madiun tidak gagal membangun drainase yang efektif, hanya curah hujan saja yang melebihi kapasitas. Pembangunan yang masif tak ada kaitannya dengan bencana alam. Banjir adalah peristiwa alam, ia diluar kendali pemerintah, para pemangku kebijakan tak bisa mengatur intensitas hujan. Luapan air yang menggenang hingga masuk ke rumah warga adalah salah kita semua, pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin agar hal ini tidak terjadi, tapi yang namanya bencana alam, semua diluar kendali manusia.


Mungkin kalian emosi membaca paragraf di atas, semacam argumen yang membuang masalah struktural ke dalam tong sampah. Ya, saya memang sedang cosplay menjadi netizen yang hewan kebun binatang, pilih saja hewan yang cocok untuk warga digital egois. Netizen yang gagal sejak dari berpikir memang tak bisa dibantah dengan argumen, cukup puji saja opini jeleknya, puji agar egonya terpuaskan. Tinggikan mereka setinggi-tingginya, agar tak ada opini bantahan yang makin mempertebal kebodohan. Kita yang sedikit waras, cukup tertawa, berbahagia atas manusia-manusia yang egois dengan kebenaran semu.


Distopia Madiun, khayalan yang segala sesuatunya sangat buruk dan tidak menyenangkan, itulah bayangan awal tahun saya untuk Madiun. Eh ternyata benar, awal tahun kota estetik nan romantis ini tergenang air, sengaja saya sebut tergenang air, sebab menyebut banjir adalah perilaku tak beretika, tidak sopan, dan tidak tahu rasa terima kasih kepada pemerintah. Pembangunan kota memang tak ada yang sempurna, tapi kita punya kuasa untuk mengingatkan para pemangku kebijakan, bahwa keseimbangan dalam membangun daerah adalah harga mati, buat apa trotoar estetik tapi drainase sulit?


Terdengar jahat untuk beberapa orang. Banjir ini adalah pengingat awal, Kota Madiun akan menghadapi masalah pelik lain dalam membangun kota. Biaya hidup makin mahal, pengelolaan lalu lintas kacau, gentrifikasi, kesenjangan sosial, dan kerusakan lingkungan adalah masalah yang akan menghantui Madiun. Saya pernah menulisnya panjang di kolom opini Geotimes dengan judul “Distopia Madiun Kota Replika”. Namun, masalah di atas bukanlah tantangan terbesar, tantangan terbesar Kota Madiun adalah menjaga identitas lokal dan  membangun kota tanpa mengikis karakteristik daerah. 


Kembali pada masalah banjir. Fenomena alam satu ini memang tak bisa diprediksi kapan datangnya, tapi bisa dicegah dampak buruknya. Nah, Kota Madiun terbukti gagal dalam mencegah luapan air dari hulu. Banyak hal yang menyebabkan kenapa genangan air bisa naik ke daratan, nyalahin masyarakat yang buang sampah sembarangan bisa, nyalahin pemerintah yang gagal bangun drainase bisa, nyalahin tata kelola kota yang semrawut bisa, nyalahin infrastruktur mitigasi yang jelek juga bisa. Kalau mau nyalahin mah gampang bang, nyari solusinya yang sulit. Eh kata siapa? Masalah banjir di perkotaan tuh masalah klise lo. Solusinya ada di mana mana. 


Solusinya, membangun sistem drainase yang efisien dan memadai untuk menangani volume air hujan, rutin memeriksa dan membersihkan saluran drainase untuk mencegah penyumbatan. Menerapkan perencanaan tata guna tanah yang tepat dengan mengidentifikasi dan melindungi daerah resapan air.  Mengelola sampah dengan benar untuk mencegah penyumbatan saluran drainase. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Itu solusinya, pertanyaannya, mitigasi semacam ini dipikirin nggak pas bangun wajah kota? Ah, omong doang kamu, omon-omon doang, nggak ada rasa terima kasih sudah dibangunkan kota replika yang ciamik. Yaudah deh maaf abangku, kamu paling keren kok.


Masalah banjir selesai, mari kita bahas masalah klasik, bolehkah kita mengkritik pemerintah? Jawabannya sederhananya boleh, bahkan harus. Pemerintah tuh bukan Tuhan, bukan orang yang selalu benar, mereka bisa juga salah. Bahwa Pemkot Madiun telah membangun kota dengan baik dan estetik, itu perlu kita apresiasi, harus kita akui itu mengagumkan. Tapi pembangunan kota memang nggak ada yang sempurna, makanya kita musti mengingatkan pemerintah kalau mereka mulai melenceng dan terbukti gagal dalam memitigasi banjir. Sesederhana itu loh, tapi kenapa kalian nyinyir banget sih sama mereka para pengkritik. Ngritik tuh mengurai masalah, setengah dari solusi, kritik tuh bentuk kecintaan kepada Madiun.